Jumat, 29 Agustus 2008

Ethis Lamatuka

Orang Lamatuka adalah salah satu ethis di pulau Lembata yang memiliki nilai santun yang tinggi dan meraka menggunakan bahasa daerah yang agak berbeda dengan desa-desa yang lain terutama dialeknya terkesan lebih halus . Perlu diketahui bahwa di Pulau Lembata tidak ada satu bahasa daerah yang bisa digunakan untuk berkomunikasi sehingga bahasa indonesia sering dipakai untuk berkomunikasi antar wilayah.

Menurut cerita turun - temurun orang Lamatuka berasal dari sebuah pulau di sebelah timur pulau Lembata yaitu pulau "Lepanbatan Ruha rema" pendahulu-pendahulu itu menyelamatkan diri dari pulau Lepanbatan karena terjadi bencana alam yang sangat dasyat. Mereka bereksodus kepulau terdekat yaitu Lomlen yang dibawahi oleh seorang tokoh bernama " Ama Dolu Sinu dan isterinya Ina Ema Hingi " mereka terhimpun dalam satu keluarga besar yaitu Lamatuka. Mereka berlayar sampai ke teluk "Bobu" sebuah teluk di selatan pulau lembata, dan menyusuri sebuah Gua yang cukup besar sehingga mereka mengikiti jalur gua tersebut dan akhirnya mereka keluar disuatu wilayah pedalaman Lembata yaitu " NUBA " yang akhirnya dinamakan Nuba Dolusinu dan Ema Hingi. Dalam perjalan tersebut ada juga orang-orang yang mempunyai niat-niat yang berbeda dan cendrung menggunakan" kekuatan Hitam" untuk mengganggu sesama yang lain sehingga " Ama Dolusinu " mengambil sebuah keputusan untuk menutup Lobang tempat keluar dengan sebuah batu sehingga orang-orang tersebut tidak masuk dalam ethis Lamatuka. Hal ini terbukti bahwa dari keturun Lamatuka tidak ada orang yang mempunyai kekuatan Hitam atau dalam bahasa setempat "Emap'e". akan tetapi muncul banyak tabib yang melakukan kegiatan secara sukarela untuk menyembuhkan pasien dengan bantuan Lelurur dari Nuba Dolusinu. Dari puncak nuba itulah awal ethis ini memulai suatu kehidupan yang baru dengan mendiami empat wilayah kampung yang berdekatan yaitu: Besei , Lebelang, Benalar dan Hidalabi.

Puncak Nuba Dolusinu ini menjadi suatu tempat yang memperstukan Lima Marga besar orang Lamatuka yaitu : Tukan, Lasar, Ruing, Lewuras dan Lengari, dengan melakukan ritual adat ditempat ini. Hal ini menjadi dogma turun temurun yang diteruskan sampai sekarang dan Nuba Dolusinu menjadi tempat yang sakral untuk orang Lamatuka.

Di Puncak ini dilakuakan perpaduan antara ritual Agama dan budaya lokal dengan didirikan sebuah gua Maria yang disebut "Gua Pae Hati " dan ditempat ini selalu dilakukan upacara syukur setiap tahun oleh Gereja pada bulan Desember yang selalu dihadiri oleh para pejabat Kabupaten Lembata. Anak- anak Lamatuka sekarang sudah tersebar diberbagai daerah dengan kehidupan yang berbeda tentunya tetapi nilai-nilai luhur dari puncak Nuba selalu tertanam dalam hati setiap orang.

Sabtu, 09 Agustus 2008

Pulau Lembata Bukan Lembakar...

Sangat menyedikan kalau tradisi atau kebiasaan membakar hutan di lembata dari tahun ketahun tidak pernah hilang. Ditengah gencar orang berbicara tentang penanganan pemanasan global, yang mana hutan merupakan satu-satunya solusi mengurangi terhadap dampak pemanasan global, akan tetapi masih ada juga orang yang punya tabit buruk dan sangat picik atau mungkin meraka megidap semacam suatu jenis penyakit yang merukan warisan Jaman purba..






yaitu " Berburu binatang hutan " sehingga kerap kali hutan menjadi sasaran untuk melancarkan kegiatan perburuannya. Kelakuan ini sering terjadi pada setiap tahun tapi herannya ga ada suatu tindakan hukum atau usaha serius dari semua pihak untuk menjaga kelestarian hutan Lembata...


atau jangan-jangan pembakaran hutan juga diback up oleh pihak-pihak yang seharusnya bertugas untuk menjaga, melestarikan atau melindugi hutan.


Saya yakin jika kegiatan ini tidak disadari sejak awal maka suatu saat Lembata akan mengalami krisis Air minum dan anak cucu atau generasi yang hidup pada saat itu akan sangat berang denagan kelakuan generasi pendahulunya.
ini baru kita bicara yang kelihatan dan bisa di ambil gambarnya tapi bagaimana yang ga bisa di pantau misalnya di pantai selatan, di teluk waiteba misalnya atau di daerah Atanila dan teluk Bobu.
Wow... STOP SUDAH LAH ACARA BAKAR_BAKAR HUTAN.
saya sangat prihatin......
Karena LEMBATA bukan LEMBAKAR..
gambar saya ambil pada tanggal satu agustus 2008.

Sabtu, 01 Maret 2008

Prosesi Agung Larantuka

Prosesi agung ini dilakukan setiap tahun pada masa perayaan Paskah yaitu pada hari Jumad yang disebut "Jumad Agung" untuk memperingati hari Wafatnya Yesus Kristus. Yang sangat menarik yaitu bahwa kegiatan prosesi ini dilakukan terus menerus dan sudah ratusan tahun. Bagi masyarakat dipulau Flores dan sekitarnya prosesi ini sudah merupakan suatu momen yang sangat ditunggu-tunggu setiap tahun. Kegiatan prosesi sangat unik yaitu dilakuakan menggunakan perahu diatas air laut yang melintasi selat antara pulau Adonara dengan Ujung pulau Flores. Prosesi Air ini juga sering kita saksikan dilakuakan oleh masyarakat Eropa di negara Portugis.
Inti dari kegiatan ini bukan pada ritual yang dipertahankan atau dilakukan turun temurun akan tetapi lebih pada suatu bentuk Dovosi penyeraharan diri seutuhnya untuk merenungkan dan merasakan kisah sengsara Tuhan Yesus.
Foto Prosesi 21 maret 2008





Prosesi ini juga menarik perhatian dari masyarakat diluar pulau flores bahkan ada pesiara-pesiara asing yang mengikuti kegiatan ini.

Puncak dari perayaan iman ini adalah perarakan "Tuan Ma" dan "Tuan Ana" yang dilakukan pada Jumad malam yang membentuk suatu barisan panjang dengan suasana sakral.





















Foto Prosesi 21 maret 2008

Budaya Sikka

Sikka adalah sebuah kabupaten di Pulau Flores yang berbatasan dengan Kab. Ende dan Flores Timur. Ada tiga ehtnis yang mendiami wilayah ini yaitu :
1. " Lio " mendiami wilayah barat dan berbatasan dengan kab. Ende
2. " Tanah Ai," mendiami wilayah timur dan berbatasan dengan Flotim
3. " Sikka ", menghuni wilayah tengah dan selatan.

Salah satu Kebudayaan yang masih terpelihara dengan baik yaitu pakaian adatnya ( Kimang ) dengan perpaduan warna dan aksesorisnya.
foto diambil saat karnafal menyongsong HUT RI yang ke 62 di Maumere. Yang membuat saya terkesan yaitu semua anak-anak dan remaja sangat tertarik dan bangga jika diminta untuk memakai pakaian adat (kimang). Hal ini cukup membuktikan kalau pelestarian budaya di Sikka cukup baik. Selain pakian adat ada juga tarian tradisional yang sangat unik dan menarik.

Vidio diambil saat Karnaval ,



Lihat lagi yang ini........

Aksi anak-anak Sikka,......

Minggu, 24 Februari 2008

Tanah Lembata Akan Terluka Oleh Penambangan

Gunung Ile Ape merupakan gunung berapi yang setiap saat aktif dan mengeluarkan Asap tebal, hal ini sudah sangat lama terjadi tetapi tidak menakutkan bagi warga masyarakat di kecamatan Ile Ape dan Lebatukan yang tinggal di kaki gunung tersbut.
Konon pernah ada yang mendaki kepuncak dan melihat langsung kawah gunung tersebut.
Di Lembata masih ada 2 gunung lagi yaitu 'Laba Lekan dan Gunung Kedang di ujung Pulau lembata.
Pulau Lembata memang merupakan Jalur Fulkanik dan bahkan dibagian selatan ( Waiteba ) adalah daerah patahan yang pada tahun 1979 terjadi bencana Alam "Longsor di waiteba yang menimbulkan Sunami dan merenggut banyak Korban jiwa. Banyak Anak yang kehilangan orang tua dan tidak sedikit pula orang tua meratapi anak-anaknya yang ditelan sunami. Masa kelam yang terjadi membuat trauma yang sangat mendalam untuk anak-anak Lembata. Mungkinkah Hal ini tidak terulang lagi ? Kita bertanya kepada PEMDA Lembata yang sangat antusias terhadap Eksplorasi tambang di pulau yang penuh dengan miteri alam ini. Bukan tidak mungkin Eksplorasi yang dilakukan bisa menimbulkan bencana baru untuk Pulau mungil ini.
Belajar dari sejarah bahwa Manusia lembata merupakan pelarian dari Pulau Lepan Batan yang diakibatkan karena Becana Alam. Bisa jadi suatu saat anak-anak Lembata akan Lari, Mengungsi kepulau lain karena bencana yang menyebabkan Pulau ini tenggelam.